Laman

Selasa, 27 Mei 2025

Daun Semanggi, Bintang Jatuh dan Revolver


 

(Telah dimuat di koran Tempo edisi Sabtu, 24 Mei 2025 dengan judul "Daun Semanggi hingga Revolver")

 

Daun Semanggi

Aku tidak ingat kapan pertama kali anak kecil itu muncul dalam mimpiku. Namun, akhir-akhir ini dia selalu hadir kapan pun aku tertidur; siang maupun malam hari. Kami selalu di tempat yang sama. Itu adalah sebuah taman dengan tanah lapang yang hijau. Di sebelah kiriku ada hutan lebat seperti hutan di sebuah film favoritku. Anak kecil itu berdiri di hadapanku, di sebelahnya ada sebuah ayunan yang dicat warna-warni dan aku duduk diam memegang daun semanggi berhelai empat.

“Ayo main,” ucapnya.

Dan aku terbangun.

Aku pernah dengar, katanya, jika kita bisa menemukan daun semanggi berhelai empat, maka kita akan mendapat keberuntungan. Apakah itu artinya semua permohonan kita akan terkabul? Kalau begitu, apakah permohonanku yang tidak pernah didengar Tuhan juga dapat terkabul?

“Aku ingin pergi ke taman,” ucapku pada perempuan yang selalu datang ke kamarku.

Perempuan itu tersenyum memamerkan giginya yang kekuningan kemudian mendekat padaku. Aku baru saja menghabiskan sarapanku berupa bubur dengan abon sapi di bawah tatapan tajam perempuan itu. Dia selalu memaksaku untuk menghabiskan makanan yang ia antar walaupun rasanya tidak enak. Buburnya selalu keasinan.

“Kalau begitu, kau harus menghabiskan obatmu lebih dulu.” Perempuan itu menyodorkan beberapa butir obat berwarna putih yang diletakkan di sebuah kotak kecil.

Seketika perutku mual. Aku hafal betul rasa pahit dari butiran obat-obatan itu. Entah obat apa yang mereka—orang-orang berbaju putih—berikan padaku, tapi rasanya sungguh luar biasa pahit. Kalau enak bukan obat namanya, begitu ibuku berkata saat aku masih kanak. Makanya jangan sakit, lanjut ibuku. Apa itu artinya sekarang aku sedang sakit?

Aku termenung, memandangi kedua tanganku dengan bekas-bekas aneh di pergelangan tangan. Benar, aku sakit, itu sebabnya aku berada di sini dengan obat-obatan yang tidak pernah telat diantar padaku. Selain obat mereka juga kadang menyuntikan cairan ke lenganku yang membuatku kehilangan kesadaran.

“Kalau kau rutin meminum obatmu tanpa paksaan, aku akan mengantarmu ke taman.”

“Berapa lama?”

“Setidaknya dua minggu.”

“Itu terlalu lama.”

Tidak ada gunanya melakukan negosiasi dengan orang-orang di sini. Mereka tidak pernah berada di pihakku. Mereka tidak pernah mempercayaiku, bahkan untuk sekadar pergi ke taman. Mereka bilang aku harus diawasi dengan sangat ketat.

“Kau bisa memulainya hari ini jika ingin ke taman secepatnya.” Perempuan itu kembali menyodorkan kotak berisi obat. Aku tahu mereka tidak akan meninggalkanku sebelum obat-obat itu melewati kerongkonganku. Tiga kali sehari tanpa terlewatkan, atau mereka akan memaksaku dengan cara yang mengerikan.

Aku benci obat putih itu, sama bencinya aku dengan orang-orang di sini dan tempat ini. Namun, aku harus segera ke taman untuk menemukan daun semanggi berhelai empat. Perlahan, aku meraih kotak berisi obat yang perempuan itu sodorkan. Dalam sekali tenggak obat-obat itu tertelan.

“Buka mulutmu.”

Jika aku bilang mereka tidak pernah percaya padaku, ini adalah salah satu buktinya. Mereka akan mengecek rongga mulutku untuk memastikan obat itu benar-benar tertelan—bukan aku sembunyikan di dalam mulut. Benar-benar luar biasa perempuan ini.

“Dua minggu dari sekarang, jika kau rutin meminum obatmu, aku akan membawaku ke taman.”

Setelahnya perempuan itu pergi meninggalkan kamarku diikuti suara pintu yang dikunci. Kini yang tersisa hanya aku dan ruangan sepi ini. Aku tak ingat sejak kapan aku berada di sini; sepertinya sudah lama. Ingatku timbul tenggelam, tapi yang aku ingat aku telah melakukan ratusan percobaan bunuh diri. Kadang aku lupa kenapa aku ingin mati.

“Kenapa?”

Aku pun tidak mengerti. Sama halnya aku tidak mengerti mengapa aku harus hidup. Sama halnya aku tidak mengerti mengapa rencana bunuh diriku selalu gagal. Mengapa orang tuaku mengirimku ke sini; ke bilik rumah sakit jiwa ini?

Kembali aku memandangi bekas-bekas aneh di pergelangan tanganku. Sayatan-sayatan kasar di sekitar urat nadi. Aku ingat aku pernah sekarat di ruangan ini karena terlalu banyak menelan obat putih yang berhasil aku sembunyikan. Itu adalah rencana bunuh diri ke seratus delapan puluh tujuh1. Aku telah merencanakan ratusan bunuh diri sebelumnya, namun selalu gagal entah apa sebabnya. Aku pikir rencanaku yang terakhir kali itu akan berhasil, tapi aku masih hidup sampai sekarang.

Orang-orang bertanya mengapa aku ingin sekali mati; aku pun tidak tahu persis. Aku hanya ingat tentang pria-pria yang membuka kakiku dengan tawa mengerikan, yang membuat seluruh tubuhku sakit dan aku hanya bisa berteriak dan terus berteriak hingga aku tidak bisa mendengar teriakanku sendiri. Sejak itu orang-orang mulai memandang iba padaku. Aku benci tatapan mereka, terutama tatapan Ayah, Ibu, saudara dan teman-temanku. Aku merasa sepi yang tidak berujung, dadaku sakit dan aku ingin berhenti. Aku ingin semua rasa sakit ini berakhir. Benar, itulah permohonanku. Aku harus segera menemukan daun semanggi berhelai empat!

Ternyata tidak mudah menemukan daun semanggi berhelai empat di taman rumah sakit. Setelah perjuangan panjang menelan obat-obat pahit selama dua minggu—tanpa kompensasi sedikit pun—akhirnya perempuan itu membawaku ke taman. Aku sudah mencarinya sejak jadwal minum obatku yang pertama di pagi hari, dan setelah menelan obat keduaku aku belum berhasil menemukannya. Di taman kecil dekat kamarku ini hanya ada daun semanggi berhelai tiga. Apa aku harus pergi ke taman yang lebih luas dan lebih hijau di mana rumput semanggi tumbuh lebih subur? Di tanah yang subur pasti setidaknya ada satu daun semanggi berhelai empat. Aku ingat mimpiku tentang anak kecil yang mengajakku bermain. Di taman seluas dan sehijau itu pasti mudah menemukan daun semanggi berhelai empat.

“Ini sudah hampir gelap. Kau harus minum obatmu dan kembali ke kamar.”

Perempuan itu berdiri tak jauh dariku. Aku melihat orang-orang yang sebelumnya berada di taman mulai kembali ke kamarnya masing-masing. Hanya ada aku dan perempuan itu sekarang. Dia menatap arloji di tangannya kemudian mengetuk benda itu beberapa kali sebagai tanda bahwa waktuku telah habis. Di samping perempuan itu, tumbuh sebatang pohon beringin besar yang menaungi taman, akar-akar gantungnya menjuntai seperti rambut nenek-nenek yang tidak pernah keramas. Ini persis seperti adegan film menegangkan. Dan kini jantungku berdetak lebih kencang, adrenalinku terpacu. Aku harus pergi ke taman yang lebih luas!

 

Bintang Jatuh

Aku pernah mati satu kali ketika berusia tujuh, lalu sebuah bintang jatuh datang padaku dan membangkitkanku. Ah, bintang jatuh. Seseorang pernah berkata, orang-orang suka dengan bintang yang bersinar, tapi sebenarnya mereka lebih suka kalau bintang itu jatuh2. Ketika pertama kali mendengar kalimat itu aku merasa begitu sedih. Namun kemudian aku menyadarinya bahwa itu benar. Pasti menyenangkan ketika teman sekelas yang selalu mendapat peringkat pertama tiba-tiba jatuh di peringkat bawah. Pasti juga sangat menyenang ketika rekan satu tim yang selalu mendapat pujian dari atasan membuat kesalahan dan dicaci-maki. Sebuah bintang yang meluncur jatuh lebih indah ketimbang bintang yang berkedip di atas langit.

Sejak kecil, aku percaya bahwa jika kita membuat permohonan ketika melihat bintang jauh di langit malam maka permohonan itu akan terkabul. Permohonan apa yang ingin kau sampaikan ketika melihat bintang jatuh?

Aku pernah bertemu dengan seorang gadis dengan luka-luka sayatan di pergelangan tangannya. Gadis kurus bermata cekung kehitaman; tak ada sorot kehidupan dalam tatapan matanya, namun ada sebuah tekad yang begitu kuat di sana. Gadis malang yang dipermainkan takdir.

“Aku mencari daun semanggi berhelai empat,” begitu katanya dengan suara lirih.

Tubuhnya menggigil kedinginan, kakinya telanjang menampakkan luka-luka kemerahan. Entah berapa jauh sudah gadis itu melangkah untuk sampai di taman ini dan bertemu denganku untuk sebuah daun semanggi berhelai empat. Ah, gadis itu telah banyak berhadapan dengan kematian. Haruskah aku membantunya? Tentu ada banyak daun semanggi berhelai empat di tamanku ini.

“Kenapa kau mencari daun semanggi berhelai empat?”

“Aku ingin membuat sebuah permohonan.”

“Apa permohonanmu?”

“Kematian.”

Kematian. Aku pernah merasakannya satu kali dan itu sangat menyakitkan. Kenapa seorang gadis muda memohon untuk sebuah kematian? Bukankah ada lebih banyak alasan untuk tetap hidup. Aku teringat pada seorang pemuda yang memohon kehidupan untuk kekasihnya yang sekarat. Pun tentang seorang ayah yang memohon agar anak semata wayangnya dihidupkan kembali. Begitu banyak permohonan tentang kehidupan, lalu mengapa gadis muda ini justru memohon kematian? Bukankah kematian adalah sesuatu yang pasti; yang tak perlu diminta ataupun dimohonkan?

“Apa yang bisa kau berikan untuk terkabulnya permohonanmu?”

“Apa pun yang kau inginkan, Bintang Jatuh.”

Bintang jatuh selalu mengabulkan permohonan orang-orang yang melihatnya. Namun, sama seperti langit yang kehilangan setitik cahayanya ketika sebuah bintang meluncur jatuh, selalu ada harga yang harus dibayar untuk setiap permohonan. Namun, sebuah kematian bukanlah sebuah permohonan yang layak dikabulkan.

 

Revolver

Aku tidak menyangka gadis itu akan muncul di hadapanku; terlebih muncul dengan amat mendadak di kamarku yang sempit. Tidak. Aku yakin telah membunuhnya hari itu. Pagi masih terlalu dingin ketika kudapati gadis itu tengah duduk di meja dekat tempat tidurku sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang telanjang. Dia mengetuk-ngetuk laptop di meja sedangkan tangan lainnya tengah asyik dengan sebuah revolver.

Aku tergagap sesaat, tidak menyakini penglihatanku, sampai dia menoleh dan tersenyum menatapku. Gadis itu menunjukkan revolver di tangannya dan berkata bahwa sangat sulit untuk menemukanku. Aku tahu dia sedang mengejekku. Sekali lagi aku mengingat-ingat bahwa aku telah membunuhnya hari itu. Apakah lagi-lagi gadis itu berhasil selamat dari kematian?

“Aku selalu bertanya-tanya, siapa kiranya yang begitu menginginkan kematianku sampai dia merencanakan kematian hingga ratusan kali.” Gadis itu turun dari meja, kaki telanjangnya menapak lantai kamar yang dingin.

Kaki itu telah berjalan sangat jauh demi menemukan kematian yang aku rencanakan untuknya. Kaki dengan luka-luka dari duri dan jalanan berbatu. Namun, kini kaki itu tengah melangkah ke arahku. Gadis itu menjatuhkan dirinya di kasur membuatku harus bangkit demi menghindarinya. Dia memantul-mantulkan badannya yang kurus kering di sana seperti anak kecil. Aku masih terdiam di tempatku; membeku seperti seekor ikan di dalam freezer. Aku memperhatikan lehernya yang begitu kecil dengan memar merah, juga pergelangan tangannya yang penuh bekas luka sayatan.

Gadis di hadapanku ini tidak seperti gadis belasan tahun pada umumnya.

“Seratus delapan puluh delapan kali. Kau ingat?”

Tentu aku ingat. Sangat ingat.

“Itu sangat melelahkan,” desahnya, kemudian membaringkan diri di kasurku. Untuk beberapa lama dia bergeming di sana dengan napas naik turun teratur seolah tertidur.

“Apa maumu?”

Dia tak segera menjawab. Gadis itu hanya membuka mata dan menatap langit-langit kamarku. Ada ketenangan dalam sorot matanya, tapi aku tidak boleh tertipu. Aku kenal betul gadis ini; dia bukan gadis lemah hanya karena tubuhnya yang kurus kering. Terlebih karena sekarang dia memegang revolver yang entah dia dapat dari mana.

“Seperti yang aku bilang tadi, aku hanya ingin tahu siapa yang begitu menginginkan kematianku.”

Keheningan muncul di antara kami. Gadis itu hanya duduk tenang di kasurku sembari memain-mainkan revolvernya seolah memperingatkanku untuk tetap diam. Apakah gadis itu akan membunuhku? Dia meraih sebuah sisir di nakas samping tempat tidurku dan mulai menyisir rambutnya yang kemerahan dan kusut. Gadis itu begitu tenang, tapi aku harus tetap waspada.

Setelah cukup lama menyisir rambut kusutnya gadis itu melempar sisirku sembarangan kemudian bangkit, berjalan mengitari kamarku yang sempit, kumuh dan lembap. Hanya ada sebuah jendela kecil dan tinggi di kamarku. Jendela itu tidak bisa disebut jendela karena tidak pernah dibuka, bahkan di siang hari nyaris tidak dapat mengantarkan sinar matahari. Kamar ini lebih mengerikan dibanding sel penjara. Lebih mengerikan dibanding bilik rumah sakit jiwa tempat gadis ini harusnya berada.

“Aku hampir tidak percaya, kau merencanakan semua kematianku di kamar ini. Kau tahu, itu semua sangat mengerikan.”

Aku tidak tahu bagaimana cara gadis itu muncul di hadapanku. Itu tidak mungkin terjadi, tapi gadis itu benar-benar berada di kamarku sekarang. Terakhir kali, aku membuatnya berjalan sangat jauh demi menemui Bintang Jatuh untuk memberinya kematian.

Tunggu!

Seketika aku menoleh padanya yang tengah tersenyum lebar padaku.

“Benar. Ini yang aku minta pada Bintang Jatuh.”

“Kau harusnya meminta kematianmu!”

“Kenapa aku harus mati?”

“Bukankah semua orang juga akan memilih kematian jika jadi kau?”

Gadis itu memilih tidak menjawab. Dia kembali berjalan mengelilingi kamarku, mengamati setiap benda yang dia temui hingga berhenti di depan kamar mandi. Gadis itu berdiri lama di sana, memandang entah apa yang ada di dalam kamar mandiku. Aku yakin hanya ada ember berisi air, sabun, sampo, pasta gigi dan sikat gigi di dalam sana. Aku tak tahu apa yang begitu menarik perhatiannya.

“Kau ingat, kau pernah merencanakan kematianku di kamar mandi dengan menenggelamkan diri.”

Tentu saja aku ingat. Seratus delapan puluh delapan rencana kematian untuk seorang gadis. Dan itu semua aku tulis dengan rapi. Namun, hingga saat ini belum ada yang berhasil. Gadis itu masih saja terus selamat.

“Jadi, kau merencanakan semua kematianku dari benda hitam itu?” Gadis itu menunjuk laptop di meja dengan dagunya.

Ah, harusnya aku menyimpan benda itu sedari tadi.

“Kau tahu, kematian seperti itu sangat menakutkan dan dingin.”

“Begitu juga dengan hidup.”

Gadis itu tertawa. Terbahak-bahak hingga aku takut dia akan tersedak dan mati. Oh, dia tidak boleh mati tanpa rencana dariku. Hanya aku yang boleh memberinya kematian. Aku ingat ketika pertama kali aku menulis tentang gadis ini; dia adalah gadis yang periang, seperti sekuntum bunga morning glory di pagi hari. Dia sangat bersinar dan dicintai semua orang. Membuatku iri. Kenapa ada seorang gadis yang begitu bahagia dalam hidupnya sedangkan aku tidak?

Namun, bukankah bintang yang meluncur jatuh jauh lebih indah dibanding bintang yang hanya berkedip di langit malam? Aku memberinya kesakitan pertama sama seperti yang aku alami. Pria-pria berbadan besar itu menyayat-nyayat gadis itu dari dalam; satu per satu dengan tawa yang mengerikan. Aku tahu betul bagaimana rasanya berteriak dengan sangat kencang hingga gendang telinga kita sendiri tidak dapat mendengar teriakan itu. Sepi, sunyi, sakit, dan dingin. Rasanya seperti berjalan di dalam lorong yang gelap dan lembap. Lalu tatapan orang-orang yang mengiba berubah menjadi menyudutkan.

Siapa yang salah? Orang-orang mulai mempertanyakan, sedangkan aku mulai jatuh pada keputusasaan; tenggelam dalam kesakitan. Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang sakit? Dan kenapa harus aku yang minum obat-obatan? Kenapa orang-orang menatapku seperti akulah penjahatnya? Ayah, Ibu, saudara, teman-teman, ke mana mereka semua?

Seratus delapan puluh delapan rencana kematian yang aku tulis untuk gadis itu adalah keinginanku yang tidak pernah berani aku lakukan. Seratus delapan puluh delapan rencana kematian yang berhasil dia lalui untuk sampai di tempatku berdiri sekarang.

“Aku tidak mau lagi,” ucapnya.

“Kau pikir dunia akan baik padamu?”

“Aku bilang aku tidak mau lagi.” Gadis itu mengacungkan revolvernya ke arahku membuatku terkesiap.

“Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Aku yang menciptakanmu.”

“Seratus delapan puluh delapan rencana kematian yang kau berikan padaku, hanya karena kau tidak mampu berdamai dengan dirimu sendiri.”

“Jangan bicara seolah kau tahu apa yang aku rasakan!”

“Bukankah itu tujuanmu? Membagi rasa sakitmu padaku? Dan aku bilang, aku tidak mau lagi.”

“Kau adalah aku.”

“Ini yang aku minta pada Bintang Jatuh. Kematianmu.”

Matanya nyalang menatapku dengan ujung revolver tepat mengarah ke kepalaku. Berbarengan dengan suara ledakan aku merasakan sesuatu melesat melewati batok kepalaku. Aku melihat pria-pria berbadan besar dengan tawa mengerikan. Aku melihat orang-orang yang pergi meninggalkanku. Aku melihat seonggok daging hidup yang keluar melewati selangkanganku. Aku melihat bunga morning glory berwarna biru keunguan sebelum berubah menjadi merah darah. Dan gadis itu menatapku dengan kesedihan.

“Selamat tinggal, ****.”

Kamis, 27 Februari 2025

Tak Ada Apel Segar untuk Adikku Hari Ini

 


(telah tayang di basabasi.co edisi 1 November 2024)


Aku sangat benci adikku. Setiap hari, kerjaannya hanya menangis dan merengek tentang apa pun yang dia inginkan. Aku hanya diam dan sesekali menyuruhnya berhenti menangis, tapi aku lebih sering membiarkannya. Kalau bosan juga dia akan berhenti sendiri. Namun, kali ini aku benar-benar lelah untuk mendengar suara tangisan dan rengekannya. Badanku sudah remuk rasanya dan tak sanggup lagi meladeni Sari, adikku.

Sejak aku pulang dari memulung, dia merengek ingin buah apel. Sari memang memintaku untuk membawakan apel saat aku berangkat tadi pagi. Maka, aku memberinya dua butir apel yang kupungut di dekat tempat sampah di pasar.

Dia menolak, “Aku ingin apel segar yang berwarna merah!” Apel setengah busuk itu dilempar ke lantai rumah yang terbuat dari tanah hingga hancur.

Aku diam menatapnya. Dalam bayanganku, kini aku sedang menyeret tubuh kecil Sari ke belakang rumah kemudian menceburkannya ke dalam sumur. Air dingin di dalam sumur pasti bisa membuatnya sedikit waras sebelum tubuh kecil itu tenggelam karena Sari tak bisa berenang. Air akan berkecipak untuk beberapa saat hingga kemudian sunyi kembali menandakan Sari telah tewas di dalamnya. Aku tak perlu cemas dengan warga apalagi polisi karena tak akan ada yang menghiraukan kami. Gadis kecil yang hobi menangis dan meraung tiba-tiba menghilang malah akan membuat lingkungan kami damai.

“Aku ingin apel merah segar.” Sari terus merengek.

Aku tak mau meladeninya jadi aku beranjak ke sumur, bukan untuk menceburkan adikku, melainkan untuk mandi. Ketika aku kembali, Sari sudah tertidur sambil memeluk boneka lusuhnya, selusuh baju yang dia kenakan.

Pelan Sari mengigau dalam tidur. Dia memanggil-manggil Ibu yang sudah enam bulan ini menghilang. Sejujurnya aku kasihan pada Sari. Dia tak tahu apa-apa ketika Ibu pergi. Yang dia tahu hanya suatu hari nanti, Ibu akan kembali dengan membawakan segerobak apel merah segar untuknya, juga beberapa lembar baju yang sangat indah sama seperti milik teman-temannya.

“Ibu akan pulang dan aku tak akan membagi sebutir apel pun pada Kakak,” ucapnya sungguh-sungguh.

Saat itu, ingin kukatakan padanya bahwa Ibu tak akan pernah kembali apalagi membawa segerobak apel. Namun, melihat binar matanya kala membayangkan apel dan baju indah membuatku bungkam. Setidaknya, dengan harapan itu Sari bisa tertidur pulas di malam hari dan tak merengek terus padaku.

Aku tak berharap Ibu akan kembali. Malah aku berdoa semoga Ibu sudah ditangkap polisi karena hobi memaki dan memukulku. Aku sampai bosan dipukuli oleh Ibu. Dia memaki, menjambak, juga membenturkan kepalaku ke tembok. Aku berharap kepalaku ini terbuat dari baja jadi tak akan retak meski dibenturkan, tapi nyatanya kepalaku tetap berdarah. Dan walaupun kepalaku masih pusing—rasanya bumi berputar-putar—aku tetap harus memulung; mengumpulkan plastik dan kaleng bekas untuk mendapatkan beberapa receh uang. Aku juga harus memungut apel untuk Sari.

Selain suka memukul dan memaki, Ibu juga suka membawa lelaki masuk ke rumah kami di malam hari. Mereka biasanya langsung masuk kamar, sedangkan aku bertugas menjaga Sari agar tak menangis selama mereka di dalam kamar. Bisa gawat jika Sari menangis, Ibu tak akan segan menghukumku tanpa memedulikan bahwa menjaga seorang adik yang hobi menangis sangatlah sulit. Setidaknya, dalam sehari, Sari menangis hingga puluhan kali.

Ibu pergi sejak dua orang berbadan besar berkali-kali datang ke rumah kami. Ibu selalu sembunyi jika dua orang itu datang. Aku tak mengerti kenapa Ibu harus sembunyi, biasanya Ibu malah mengajak lelaki masuk ke kamar. Mungkin karena dua orang itu datang di siang hari. Aku ingin memberitahu mereka agar datang di malam hari saja, tapi Ibu malah memukulku.

Tak banyak yang Ibu bawa ketika pergi, hanya sebuah tas berisi beberapa potong baju, bedak, dan gincu. Sari menangis seperti biasa. Ibu bilang dia akan kembali dengan membawa apel segar juga baju yang bagus. Dia juga memperingatkanku agar selalu menjaga Sari, aku hanya mengangguk karena tak mau dipukul untuk terakhir kalinya. Ibu pergi dan tak kembali hingga sekarang.

“Hari ini harus apel segar.”  Sari merengek pagi ini sebelum aku berangkat memulung. Barusan aku menyuapinya dengan bubur yang aku buat dari nasi sisa pemberian tetangga kemarin. Aku jawab kalau hari ini pasti apel segar berwarna merah, bukan apel busuk. Dia tersenyum memamerkan gigi hitamnya padahal Sari jarang makan permen.

Aku tak menemukan apel yang cukup segar di tempat sampah pasar. Semuanya busuk nyaris tak bisa dimakan. Aku mengorek-ngorek lagi tempat sampah lebih dalam. Tetap tak ada. Aku bisa membayangkan bagaimana Sari meraung meminta apel segar nanti malam. Aku sudah berkali-kali berbohong padanya tentang apel merah segar dan kali ini aku harus membawanya atau dia tak akan membiarkanku tidur malam ini karena suara tangisnya.

Kakiku menyusuri lorong-lorong pasar berharap akan ada satu atau dua butir apel segar yang mungkin terjatuh dari ranjang belanja ibu-ibu atau ada penjual buah yang menjatuhkannya. Aku terus menyusuri pasar, hingga langkahku terhenti di depan kios buah. Tumpukan apel merah seolah melambai memanggilku.

“Bawa aku pulang.” Apel-apel segar itu berbisik padaku. “Satu atau dua butir tak akan jadi masalah.” Mereka terus memanggilku.

Benar, tak akan masalah jika aku mengambil satu atau dua butir karena di sana ada puluhan butir, si penjual tak akan rugi jika aku melakukanya. Sari pasti akan senang dan berhenti menangis untuk beberapa hari ke depan.

Kulangkahkan kaki mendekat pada tumpukan apel. Si penjual sedang sibuk dengan pembeli yang memborong jeruk. Ketika ujung jariku menyentuh apel merah itu aku tertegun untuk beberapa saat. Tumpukan apel itu mengingatkanku pada masa lalu.

Dulu saat aku masih kecil, ketika Ayah masih hidup dan Ibu masih suka memasak di rumah. Ayah menggandengku ke pasar, berdiri di depan kios buah seperti sekarang. Ayah bilang akan membeli beberapa butir apel hari itu. Namun, seorang laki-laki menabrak Ayah dan berteriak, “Ini dia jembretnya! Tangkap! Tangkap orang ini!” Sambil menunjuk-nunjuk Ayah yang kebingungan.

Belum sempat Ayah bangkit atau berpikir, sebuah bogem mentah mendarat di wajah Ayah diikuti pukulan dan tendangan membabi buta dari orang-orang. Aku tidak tahu apa yang tengah terjadi. Aku berteriak agar orang-orang berhenti memukuli Ayah, tapi tidak ada yang menggubris. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, maka aku hanya bisa berlari ke rumah sekencang mungkin untuk memberitahu Ibu.

Ketika kami tiba di pasar, semua sudah terlambat. Ayah sudah terbujur tanpa nyawa dengan luka di sekujur tubuh dan berlumuran darah. Aku nyaris tidak mengenali Ayah kecuali celana motif TNI yang sama dengan yang kukenakan. Ibu menangis, meraung di pemakaman Ayah dan sejak itu dia sering membawa lelaki ke rumah kami. Sari lahir setahun setelahnya.

Apel di hadapanku terus memanggil dan melambai. Aku menggeleng. Aku tak mau mati seperti Ayah. Akan tetapi, jika aku tak mengambilnya Sari pasti menangis. Aku sudah muak dengan tangisannya. Mungkin, nanti malam, jika dia menangis aku benar-benar akan menceburkannya ke dalam sumur. Aku lelah hidup sendiri dan menanggung seorang adik. Aku berpikir apa mungkin penjual buah ini akan mau memberiku satu butir apel cuma-cuma?

“Pak, boleh minta apelnya?” tanyaku.

“Pergi, pergi, jangan mengotori daganganku.” Penjual itu mengusirku.

Harusnya aku tahu kalau dia tak akan membagi satu butir apel pun padaku. Kecuali jika Tuhan turun langsung ke pasar dan menegurnya, mengatakan bahwa dia akan masuk neraka dengan api panas jika tak membantu seorang anak kecil yang kesusahan.

Namun, untuk apa juga Tuhan sibuk datang ke pasar kumuh ini untuk menegur penjual buah? Bahkan Tuhan tak pernah datang ketika aku dipukuli oleh Ibu. Bocah pemulung yang memungut apel di tempat sampah tak punya Tuhan. Maka, kuputuskan nanti malam aku benar-benar akan menceburkan adikku ke dalam sumur sekalian juga tubuhku. Aku sudah sangat lelah.

Aku pulang dengan membawa sebungkus nasi yang akan kami makan bersama. Sari sudah terlelap ketika aku pulang. Kubangunkan Sari agar makan terlebih dulu, tapi dia menanyakan soal apel segar.

“Di dalam sumur ada apel segar. Kita makan dulu setelah itu ke sana untuk mengambilnya.”

Dia mengangguk setuju dan mulai makan. Setelah makan kugandeng Sari ke belakang rumah. Sari kegirangan karena sebentar lagi akan mendapat apel yang dia inginkan.

“Kak, apa benar ada apel segar di dalam sumur?” tanya adikku sambil memeluk boneka kesayangannya.

Aku menatap Sari lama. Usianya baru lima tahun dan aku sebelah tahun. Anak-anak lain di malam hari seperti ini pasti sedang berkumpul dengan ayah dan ibu mereka, sedangkan kami hanya berdua tanpa orang tua. Anak-anak lain setiap pagi berangkat sekolah dengan malas, sedangkan aku harus memulung dan memungut apel busuk untuk adikku.

Aku menatap langit di atas sana; berharap Tuhan benar-benar ada dan melihat kami. Tak ada apel segar untuk adikku hari ini.



Selasa, 29 Oktober 2024

MONOKROM


Ini adalah catatan di hari ulang tahunku ke-32; dan aku memberinya judul: Monokrom.

Ah, 32. Angka yang tidak pernah aku bayangkan untuk mencapainya. Dulu, ketika aku masih lebih muda, aku berpikir aku tidak akan lebih dari 27 (itu sebabnya aku pernah menulis cerpen berjudul "Pada Usia Dua Puluh Tujuh"). Entahlah, aku hanya berpikir tidak ada lagi angka setelah 27 dan itu adalah yang terbaik.

Namun, aku sampai pada 32.

Banyak hal yang terjadi setahun ke belakang. 

Sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi di pertengahan tahun ini. Semua terasa begitu cepat dan aku linglung. Rasanya seperti naik rollercoaster.

Aku terbiasa membuat planning di awal tahun; apa-apa yang ingin aku capai dalam setahun. Namun kemudian rasanya semua mimpi yang sedang aku usahakan tiba-tiba hancur. Aku melihat mimpi-mimpi itu berserakan dan aku tidak tahu bagaimana cara menyusunnya lagi.

Aku benci ketika orang-orang meminta maaf padaku.
Kenapa?
Kenapa kalian meminta sesuatu yang berat padaku?
Aku pun sama rapuhnya dengan kalian.

Aku sakit.

Aku ingat ketika orang-orang di sekitarku berkata, "Kami semua sayang sama kamu." Tapi aku hanya bisa menangis dan terus menangis. Aku berusaha menyusun lagi mimpi-mimpiku. Aku berusaha untuk kembali tersenyum agar orang-orang yang sayang padaku tidak lagi khawatir. Aku ingin seperti bunga matahari yang besar dan bersinar.

Tapi aku tetap sakit.

Aku ingat ketika seorang senior berkata, "Untuk Tiqom Tarra yang selalu lincah dan ceria." Nyatanya aku tidak selalu bisa menjadi lincah, apalagi ceria. Dan aku benci.

Kalian tahu, apa bagian paling menyebalkan dari perjalanan ini? Ketika aku menyadari bahwa aku kehilangan diriku sendiri hanya untuk dicintai oleh orang lain.

Aku banyak merenung, berbincang dengan orang-orang yang lebih dewasa dan mendengarkan.

Ada satu kesimpulan yang aku dapat dari perjalananku tahun ini.
"Seperti itulah kehidupan; ini bukan tentang hitam atau putih, baik atau jahat karena tidak pernah benar-benar ada hitam dan putih dalam kehidupan."

Sedikit demi sedikit aku kembali menyusun mimpi-mimpiku. Kompas. Rumah. Dan aku bukan hanya bisa kembali tersenyum, tapi aku tertawa, terbahak-bahak sampai batuk, kemudian temanku berkata, "Lihat, kamu sudah sembuh."

Aku ingin berterima kasih pada orang-orang yang tetap berada di sisiku ketika aku kehilangan diriku sendiri dan sakit. Terima kasih karena telah menjadi pendengar yang baik.

Aku ingin tetap menjadi bunga matahari yang besar dan ceria. Tiqom Tarra.

Banyak hal yang harus aku selesaikan sebelum akhir tahun. Dan aku akan bilang, "Jalani saja, walaupun sambil ya Allah ya Allah."

Terakhir, aku ingin memaafkan, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Apakah itu seperti membuka office word ketika aku akan menulis cerita baru? Atau seperti ketika aku menyirami tanaman hortensia yang sudah 2 tahun kutanam tapi tetap tidak mau berbunga dengan harapan suatu hari akan muncul kuntum bunga di pucuk salah satu dahan? Mungkin pelan-pelan?

Atau biarkan Tuhan membawa kita pada ujung sungai yang sama? Atau seperti puisi Lawi, "...melalui suara yang kalap diteriakkan: Biarkanlah ia tenang dalam derau."


 

Jumat, 04 Oktober 2024

JODOH

(Sudah dimuat di Solopos edisi Sabtu, 28 September 2024)


Satu kata tentang ayahku: kolot. Bagaimana bisa beliau secara sepihak menjodohkanku, putri semata wayangnya, dengan seorang sepupu? Ini sudah bukan zamannya Siti Nurbaya.

“Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah dengan perjodohan ini,” ucap Mas Adi, sepupu yang dijodohkan denganku, tiap kali aku menentang perjodohan dengannya.

Tentu saja masalah! Beda usia kami lebih dari sepuluh tahun. Tepatnya tiga belas tahun empat bulan. Bayangkan, Mas Adi sudah menginjak usia remaja ketika aku baru lahir. Dan juga bayangkan misal kami menikah, dia sudah menjadi om-om, sedangkan aku baru menginjak usia matang. Astagah, apa kata dunia? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan Ayah menjodohkanku dengan sepupuku itu.

“Banyak, kok, yang beda usianya lebih jauh dari kita. Lagipula, kita sudah saling kenal sejak kecil, bahkan sejak kau masih orok. Aku bahkan pernah memandikanmu ketika kau masih kecil.”

 Kalimat terakhir sukses membuat wajahku terbakar saking malu. Baiklah, aku akui kami memang dekatnya sejak kecil karena aku selalu dititipkan di rumahnya. Aku tidak punya ibu sejak lahir karena ibuku meninggal sesaat setelah melahirkanku. Dan solusi terbaik untukku—yang mempunyai ayah yang sibuk bekerja—adalah menitipkanku pada keluarga Mas Adi, maka sejak kecil aku sudah seperti adiknya sendiri, lalu gagasan tentang perjodohan konyol ini disambut baik oleh segenap keluarga. Mas Adi dengan senang hati menyetujuinya, sedangkan aku nyaris pingsan.

Aku mengetahui perjodohan ini ketika usia lima belas. Tepatnya ketika aku baru duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Rasanya seperti ada bola bekel yang menyangkut di tenggorokanku ketika Ayah menyampaikan hal itu. Kau hanya akan menikah dengan Mas Adi, kata Ayah.

Usiaku baru lima belas, duniaku masih panjang dan gagasan tentang perjodohan dengan sepupu sendiri yang sudah seperti kakak kandung adalah kekonyolan terbesar. Aku menolak mentah-mentah gagasan yang telah diamini oleh Mas Adi dan segenap keluarga. Kalau diibaratkan sebagai bunga, aku ini baru mekar, dan banyak kumbang yang ingin mendekat. Aku seperti halnya teman-temanku yang lain, tentu ingin merasakan jatuh cinta, pacaran dengan seorang yang membuat jantungku berdebar-debar. Itu hal wajar, yang tidak wajar adalah menikah dengan om-om.

“Kita tidak akan menikah hari ini atau besok. Aku juga tidak mau menikah dengan anak di bawah umur.”

Ucapan Mas Adi benar-benar menohok, tapi lagi-lagi aku akui itu benar. Maka yang bisa aku lakukan hanya tertunduk malu dan memikirkan bagaimana cara agar aku terbebas dari perjodohan ini.

“Kau ingin pacaran, silakan. Kau ingin menikmati usia remajamu, silakan. Tapi jika waktunya sudah tiba kita akan menikah.”

“Itu artinya kau sudah mengikatku dengan rantai, memberi kebebasan palsu.”

Tidakkah mereka berpikir bahwa itu menyakitkan? Perjodohan, entah untuk alasan yang baik ataupun dengan seseorang yang terbaik tetaplah sesuatu yang mengikat kebebasan. Aku tahu Mas Adi mungkin terbaik untukku, dia punya segalanya sebagai seorang suami. Aku akui dia tampan—banyak teman-teman yang minta dikenalkan denganya—dan punya pekerjaan yang mapan. Tampan dan mapan adalah kombinasi sempurna dari seorang laki-laki. Namun, bukankah hidup juga butuh cinta? Dan aku tidak memilikinya untuk sepupuku itu.

“Begini saja,” katanya, “jika sampai di usiamu yang kedua puluh lima aku belum berhasil membuatmu jatuh cinta padaku, kau boleh menikah dengan laki-laki pilihanmu.”

Sejujurnya aku tidak paham mengapa Mas Adi setuju dijodohkan denganku—terlepas dari kami dekat sejak kecil. Aku yakin dengan wajah dan kemapanannya itu dia bisa mendapat wanita yang jauh lebih baik dariku, setidaknya seorang wanita matang, bukan bocah ingusan sepertiku. Atau mungkin dia memang sudah mencintaiku sejak kecil?

Ah, mana ada yang seperti itu, maka sejak itu aku bebaskan diriku untuk menikmati masa remaja; mengenal lebih banyak orang, jatuh cinta, dan pacaran layaknya remaja pada umumnya. Ayah tentu saja kebakaran jenggot mengetahui aku pacaran dengan orang lain. Tapi aku bilang padanya bahwa aku sudah mendapat izin dari Mas Adi.

“Mas Adi yang bilang aku boleh menikmati masa remajaku, termasuk pacaran.”

Ayah tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika Mas Adi membenarkan ucapanku. Malam itu entah setelahnya mereka membicarakan apa, aku disuruh masuk kamar dan tidak boleh keluar sampai besok pagi. Mungkin Mas Adi sedang bernegosisasi tentang hidupku. Malang nian nasibku.

Aku hitung setidaknya aku pacaran sampai dua puluh kali ketika SMA dan tidak ada yang berjalan mulus. Para pemuda itu cepat bosan dan hobi sekali selingkuh dengan temanku sendiri. Dan setiap kali ini terjadi, Mas Adi hanya menertawakanku.

“Pacaran itu hanya untuk orang-orang yang bernyali besar, bukan untuk anak cengeng sepertimu.” Puas dia menertawakanku.

Aku tidak peduli. Lulus SMA aku kuliah di luar kota yang membuat Ayah uring-uringan dan menyuruh Mas Adi mengawasiku. Sepupuku itu tentu saja dengan senang hati mengikutiku. Katanya demi menjagaku, calon istrinya. Lagi-lagi aku tidak peduli. Ketika kuliah pun aku menjadi hubungan dengan beberapa laki-laki, meski tidak pernah bertahan lama. Agaknya laki-laki memang jenis manusia yang cepat bosan. Namun, saat semester akhir kuliahku, aku menjalin seorang laki-laki dari pulau seberang. Dia baik, humoris, anak band, tampan—tak kalah dengan Mas Adi—dan yang terpenting dia seumuran denganku. Hingga lulus kuliah dan bekerja aku masih menjalin hubungan dengannya.

Aku yakin dia adalah jodohku, apalagi sebentar lagi usiaku dua lima. Aku sudah membayangkan menikah dengannya. Kami akan tinggal di rumah keluargaku yang sepi dan kami akan punya anak satu atau dua. Dan yang terpenting dari semuanya adalah bahwa aku tidak harus menikah dengan Mas Adi. Bukankah dia sudah janji untuk melepasku jika dia tidak bisa membuatku jatuh cinta sampai usia dua lima?

Memang ada kalanya kita memimpikan sesuatu dan menurut kita itu sangat mudah diwujudkan. Namun, agaknya takdir juga suka sekali memuat hancur hati seseorang. Aku nyaris gila ketika pacarku bilang harus pulang kampung untuk menikah dengan seorang sepupu.

“Kami sudah dijodohkan,” katanya.

Aku berkeras hati, kukatakan padanya bahwa aku juga sudah dijodohkan tapi sekarang aku hanya untuk dirinya. Aku juga menawarkan agar kami kawin lari saja dan kabur ke pulau lain. Tapi pacarku menolak. Dia masih sayang pada kebuh cengkeh dan pala daripada harus dicoret dari daftar keluarga karena memilih menikah denganku.

Sejak itu aku hanya mengurung diri di kamar. Bayangan tentang pernikahan dan rumah tangga dengan pacarku hancur sudah. Kebun cengkeh lebih berharga dibanding aku yang mencintainya sepenuh hati.

Mas Adi yang biasanya menertawakanku habis-habisan kali ini hanya diam. Mungkin dia sudah lelah menertawakanku atau aku terlalu menyedihkan untuk ditertawakan. Dia hanya sekali waktu menjengukku, memastikan aku tetap makan meski sedikit. Kadang aku berharap dia menemaniku lebih lama agar aku tahu aku tidak sendirian. Di saat seperti ini siapa pun pasti butuh seseorang untuk tempat bersandar.

“Aku selalu di sini, tidak pergi ke mana-mana,” katanya ketika aku bilang dia mulai mengabaikanku padahal Ayah mempercayakanku padanya. “Justru kau terus menerus lari entah ke mana.”

Kapan aku lari? Aku hanya menikmati hidupku seperti yang dia katakan ketika usiaku lima belas.

“Aku tidak akan pernah bisa membuatmu jatuh cinta jika kau terus menutup hati.”

Kadang aku juga berpikir kenapa aku tidak berusaha menerima Mas Adi saja dan justru sibuk mencari seorang kekasih yang aku harapkan menjadi jodohku. Mas Adi telah begitu setia di sisiku entah untuk alasan apa pun; entah sebagai kakak, calon suami, sepupu, atau jodoh yang telah Tuhan siapkan untukku. Dia bersedia menungguku bahkan melihatku jatuh cinta dengan laki-laki lain berulang kali. Mendadak aku berpikir apakah di balik tawanya ketika menertawakanku yang ditinggal pacar juga terdapat kecemburuan, amarah, dan kesedihan? Yang pasti lagi-lagi dia selalu ada di sisiku setiap kali itu terjadi dan harusnya itu sudah cukup bagiku untuk jatuh cinta.

“Hanya saja aneh bagiku menganggapmu yang sudah seperti kakakku sendiri sebagai calon suami.”

Mas Adi hanya tersenyum kemudian tertawa mendengarku. Dan dari tawanya itu aku tahu bahwa dia akan tetap di sisiku. Aku menyadari bahwa aku terlalu angkuh selama ini; menganggap berbedaan usia kami sebagai sesuatu yang tabu. Padahal Tuhan telah menunjukkan dengan amat jelas siapa jodohku ketika Mas Adi tertawa, tersenyum dan bicara padaku.

“Apa ini yang namanya jodoh?”

Sekali lagi Mas Adi tertawa sebelum mengangguk kemudian memelukku. Ah, sepertinya dia berhasil mencuri hatiku.

 

Jumat, 13 September 2024

Perkara Kawin

 

(Sudah dimuat di Solopos edisi Sabtu, 7 September 2024)

Kali ini Aji yakin bahwa Tuhan pasti sedang kesal ketika menciptakan makhluk bernama perempuan. Lima tahun lamanya Aji pacaran dengan Sarmila yang kini menjadi istrinya. Bagi Aji, tidak ada perempuan lain sebaik istrinya itu. Sarmila lemah lembut, murah senyum dan jago memasak. Masakan andalan Sarmila—yang juga menjadi makanan favorit Aji—adalah bandeng kuah kuning dengan potongan belimbing wuluh yang banyak. Itu adalah masakan paling juara bagi Aji! Namun, sejak seminggu yang lalu, di tiga minggu usia pernikahan mereka, Sarmila mulai berubah. Sarmila sering marah-marah tidak jelas, padahal dulu saat masih pacaran, jangankan marah-marah, merajuk saja tidak pernah Sarmila lakukan.

Kata teman-teman Aji, itu hal biasa, wajar; setelah menikah sifat asli dari pasangan akan mulai terlihat. Namun, Aji tidak percaya. Istrinya itu bukan seorang perempuan yang hobi marah-marah. Dia mengenal Sarmila dengan baik.

“Kami pacaran lima tahun lamanya,” gumam Aji tak percaya kalau sifat asli istrinya adalah perempuan yang hobi marah-marah.

Kali pertama marah—atau lebih tepatnya mulai berubah—Aji pikir istrinya itu sedang datang bulan. Aji bisa memaklumi hal itu. Perempuan memang akan uring-uringan kalau sedang datang bulan, katanya. Akan tetapi, ternyata Sarmila tidak sedang datang bulan.

“Apa jangan-jangan istrimu sedang hamil?” kata Yu Midah, penjual toko kelontong depan gang. “Kalau perempuan sedang di awal kehamilan memang sering marah-marah.”

“Kami baru menikah tiga minggu yang lalu, Yu.”

“Memang tidak boleh baru nikah tiga minggu langsung hamil?”

Meski Aji berharap segera memiliki anak, tapi sepertinya itu bukan alasan Sarmila berubah sikap padanya. Lagipula, Aji tidak pernah melihat Sarmila mual-mual atau muntah-muntah di pagi hari seperti yang biasanya terjadi pada perempuan yang hamil muda. Samila tidak sedang hamil, kukuhnya dalam hati.

Tadi pagi, ketika Aji mengeluh tentang cucian yang tidak kering, Sarmila naik pitam. Perempuan dengan rambut kemerahan itu berkata bahwa dia tidak bisa memaksa matahari di atas sana untuk bersinar siang malam 24 jam, jadi bukan salahnya kalau cucian itu tidak kering! Aji terheran-heran. Dia hanya bertanya karena tidak bisa memakai kaus kesukaannya, tapi Sarmila menanggapinya dengan emosi seolah-olah Aji ketahuan selingkuh dengan anak Yu Midah yang seksi.

Ketika Aji bertanya kenapa Sarmila sekarang hobi sekali marah-marah, bukannya sadar diri dan minta maaf pada suami, Sarmila makin melunjak.

“Tidak bisakah seorang laki-laki cukup berpikir bahwa ketika seorang perempuan marah-marah tidak jelas adalah sebuah bentuk kewajaran dari yang namanya siklus datang bulan meski perempuan itu tidak sedang datang bulan?”

Mulut Aji sampai menganga mendengar jawaban istrinya. Sebuah bentuk kewajaran dari yang namanya siklus datang bulan meski perempuan itu tidak sedang datang bulan? Maka pada detik itu Aji yakin Tuhan pasti sedang kesal ketika menciptakan perempuan, khususnya ketika menciptakan Sarmila.

Puas marah-marah, Sarmila pergi meninggalkan Aji yang masih terbengong-bengong. Laki-laki yang baru memasukki usia tiga puluh itu bahkan tak sempat bertanya hendak ke mana istrinya itu karena sibuk memikirkan perubahan sikap istrinya.

Kata ayah Aji, seorang laki-laki harus sabar menghadapi perempuan.

“Perempuan itu selalu benar meski dia melakukan kesalahan. Jadi kau harus sabar. Ingat, seperti kata peribahasa; diam adalah emas. Dan lapangkan hatimu seluas samudra.”

Aji tidak tahu seberapa luas samudra, yang itu artinya dia harus memiliki kesabaran yang tidak terhingga untuk menghadapi Sarmila. Dan itu juga artinya dia harus bersiap jika Sarmila mengakatan hal tidak masuk akal seperti tadi pagi.

Sarmila tiba di rumah ketika Aji sedang sibuk dengan pekerjaannya mencetak pesanan undangan. Sarmila mengucapkan salam dan Aji bertanya dari mana yang langsung dijawab dengan bentakan.

“Kenapa bertanya seperti itu? Kau curiga padaku?”

Kembali Aji terheran-heran dengan jawaban Sarmila. Karena Aji sudah tahu tentang peribahasa diam adalah emas, dia memilih diam dan menyuruh istrinya masuk untuk menyiapkan makan malam.

“Tanpa kau suruh juga aku akan melakukannya. Memangnya kalau bukan aku yang menyiapkannya, kau yang akan melakukannya menggantikanku? Tidak, kan?”

Tangan Aji sedikit gemetar menahan emosi. Namun, dia ingat nasihat ayahnya tadi sore.

***

Sejak subuh tadi, Sarmila sudah bangun dan meninggalkan tempat tidur. Dia mandi, membuat sarapan di dapur, dan membereskan rumah kecil mereka yang sudah seperti kapal pecah karena pekerjaan Aji menerima pesanan cetak undangan, mulai dari undangan pernikahan sampai undangan khitanan. Sebenarnya Aji ingin memiliki sebuah tempat berupa kios untuk mengembangkan usaha percetakannya dengan mesin cetak yang lebih besar sehingga bisa menerima pesanan kalender dan spanduk serta mempekerjakan beberapa karyawan. Itu impian Aji yang terus diusahakan karena untuk membuat sebuah percetakan membutuhkan modal yang besar.

Aji bangun ketika sinar matahari yang menerobos tirai jendela mencapai wajahnya. Dengan gumaman serak dia bangkit, tersaruk-saruk berjalan menemui Sarmila yang sedang menyapu halaman.

“Kau sudah bangun, Sayang?”

Serta-merta Sarmila menjawab, “Tentu saja aku sudah bangun, memangnya kau, Pemalas. Matahari bahkan sudah lelah menggantung di angkasa dan kau baru membuka mata.”

Aji ingat, seminggu yang lalu, ketika bangun di pagi hari, Sarmila akan menyambutnya dengan kata cinta. Selamat pagi, Sayang, katanya. Juga dengan sebuah kecupan manis di pipi. Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk bermesraan. Namun, sekarang, jangannya kecupan manis di pipi, bentakan yang dia terima alih-alih sapaan sayang.

“Sarmila,” panggil Aji, “Abang mau ngomong bentar. Serius.”

Dengan hembusan napas yang kuat, Sarmila menghentikan kegiatannya menyapu halaman, dilemparnya sapu tidak berdosa itu ke bawah pohon kelengkeng kemudian ikut masuk ke rumah.

“Kau sebenarnya kenapa?”

Sarmila tidak menjawab.

“Lihat, kau tidak mau menjawab. Bagaimana aku tahu salahku di mana kalau kau terus diam seperti ini?”

“Tidak apa-apa.”

Selanjutnya Aji terus bertanya dengan banyak kata kenapa dan selalu dijawab tidak apa-apa. Aji ingat, hubungan yang baik dibentuk dari komunikasi yang baik pula. Namun, bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan baik jika setiap kali ditanya kenapa Sarmila justru menjawab tidak apa-apa.

Aji rupanya mulai kehabisan kesabaran. Dengan langkah cepat dia masuk kamar, mengambil sesuatu di laci nakas dan memberikannya pada Sarmila.

“Kemarin Abang dapat uang muka dari pelanggan yang pesan undangan, pergilah ke pasar atau mal dan beli sesuatu yang kau suka.”

“Abang pikir aku ini istri mata duitan?”

“Sudah, Mila, kau bersenang-senang saja. Kau pasti lelah beberapa hari ini. Belilah baju atau sepatu yang kau mau.”

Sarmila diam untuk beberapa lama sambil memandangi segulung uang berwarna biru dan merah di telapak tangannya.

“Ya sudah, Mila siap-siap dulu. Dan juga, cepat selesaikan pesanan undangan itu.” Sarmila menunjuk tumpukan undangan yang semalam tadi dicetak Aji.

“Iya, hari ini selesai langsung Abang kirim ke orangnya. Kau sarapan dulu sebelum pergi. Abang mau mandi terus lanjut cetak undangan biar cepat selesai.”

Sarmila mengangguk kemudian beranjak ke kamar untuk ganti baju dan berdandan. Ketika Aji selesai mandi, Sarmila muncul dengan senyum semringah dan baju bagus siap untuk berbelanja dengan uang pemberian Aji.

“Mila berangkat dulu, Bang. Nanti Mila belikan bakso favorit Abang,” kata Sarmila sembari mencium tangan Aji untuk pamit.

Aji hanya geleng-geleng melihat sikap Sarmila yang tiba-tiba jadi lembut kembali. Sepeninggalan Sarmila, Aji kembali sibuk dengan mesin printer untuk mencetak pesanan undangan yang hari ini harus selesai. Di tengah kesibukannya mencetak undangan, Aji terus bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat Sarmila marah-marah tidak jelas beberapa hari ini. Namun, dia tidak juga memperoleh titik terang, hingga satu nama yang tercetak di undangan membuat kening Aji mengkerut.

Dia sedikit ingat tentang nama mempelai laki-laki yang ada di undangan buatannya. Nama yang dulu sering Sarmila sebut-sebut sebelum mereka dekat kemudian berpacaran. Dan nama mempelai laki-laki itu adalah sama dengan nama mantan pacar Sarmila.

“Pantas saja!” gumam Aji.

Kini dia tahu persis alasan Sarmila marah-marah tidak jelas dan itu bertepatan ketika Aji bilang mendapat pesanan cetak undangan pernikahan dari seorang kenalan.


Sabtu, 10 Agustus 2024

Dari Teluk Terima kepada Dewa-Dewa


(Pertama kali dimuat di Kompas edisi 4 Agustus 2024)
 

Langit berubah menjadi kelam dan bumi terguncang, saat itu pula istrimu, Ni Layonsari, tahu bahwa sesuatu telah terjadi padamu. Perempuan yang baru tujuh hari kau persunting itu telah lama mendapat firasat buruk tentangmu.

Linuh, linuh!1 Orang-orang berlarian menuju tempat yang lebih tinggi. Namun, tidak dengan istrimu. Ni Layonsari menatap langit kelam dengan guntur bersahut-sahutan, meratap pada Dewata. Harusnya ia melarangmu pergi melaksanakan titah raja. Mimpinya beberapa malam yang lalu adalah peringatan.

Banjir bandang itu terasa begitu nyata di dalam mimpi istrimu. Air bah yang entah datang dari mana itu menyeret rumah kalian sebagai pertanda buruk. Namun, kau adalah seorang abdi yang begitu setia, apapun perintah Raja Kalianget.

“Aku harus pergi melaksanakan perintah raja,” begitu katamu.

“Aku yakin mimpiku semalam adalah pertanda buruk. Bisakah kau urungkan keberangkatanmu? Raja pasti akan mengerti.”

Namun, kau bukanlah orang yang akan menolak perintah Raja Kalianget. Kau akan tetap melaksanakan perintahnya seolah itu adalah perintah Dewata.

“Aku pasti akan kembali.”

Bagimu, Raja Kalianget bukan hanya sekadar penguasa. Ia adalah sosok ayah yang memberimu sandang dan pangan ketika seluruh keluargamu dilahap wabah. Kau sebatang kara ketika Raja Kalianget membawamu ke istana dan menjadikanmu anak angkatnya. Raja Kalianget mengajarimu menggunakan panah, keris dan tombak. Raja Kalianget mengajarimu membaca dan menulis; menjadikanmu abdi kerajaan kesayangannya. Bagimu Raja Kalianget adalah sosok dewa di dunia.

Suatu hari Raja Kalianget memerintahkanmu untuk memilih salah satu dayangnya untuk kau ambil sebagai istri. Bagimu, itu adalah hal lancang karena dayang istana adalah milik raja, maka kau memohon agar diperbolehkan mencari gadis di luar istana. Raja Kalianget setuju, maka berangkatlah kau menuju pasar di pagi hari; mengamati gadis-gadis di keramaian pasar.

Satu gadis dengan mata bening dan wajah ayu itu mencuri hatimu. Kau mengamati gadis itu. Lemah gemulai gerakannya, lembut dan santun tutur katanya, hingga tatapan kalian bertemu. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang malu-malu. Siapa gerangan gadis itu? Kau bertanya-tanya pada orang di pasar.

“Ia anak gadis Jero Bendesa2,” tutur seorang warga.

Dengan hati berbunga kau menghadap Raja Kalianget. “Hamba telah menemukan gadis pujaan hati hamba, jika raja berkenan hamba ingin menikahinya.”

“Siapa gerangan gadis itu?”

“Ia putri Jero Bendesa. Ni Layonsari namanya.”

Berbekal surat dari Raja Kalianget, kau datang ke rumah Jero Bendesa untuk melamar gadis pujaanmu. Siapa pula yang tidak mengenalmu. Kau adalah abdi kerajaan kesayangan raja, pemuda gagah dengan tutur kata yang santu. Kau pun tahu, lewat senyum malu-malu di wajah ayu itu, Ni Layonsari pun telah menaruh hati padamu. Jero Bendesa setuju putrinya kau pinang.

Tepat di hari Selasa Legi Wuku Kuningan, Raja Kalianget menggelar upacara pernikahanmu. Anak angkat raja, abdi kerajaan kesayangan raja akan melepas masa lajangnya, begitulah Raja Kalianget ingin sebuah upacara pernikahan yang meriah untukmu. Namun, ketika kau dan Ni Layonsari menghadap untuk memberi hormat, Raja Kalianget terdiam menatap istrimu.

Kau tahu itu bukan tatapan seorang ayah yang bahagia melihat menantu perempuannya. Bukan. Kau juga tahu itu bukan tatapan seorang raja pada istri abdinya. Bukan. Tatapan itu seperti tatapan seekor harimau kala melihat rusa betina.

Dengan hati gundah kau pulang selepas acara perjamuan kerajaan bersama istrimu. Tak ingin memikirkan arti tatapan raja pada Ni Layonsari. Mungkin saja aku salah, ucapmu.

Tujuh hari setelah pernikahanmu dengan Ni Layonsari, Patih Saunggali datang memberi kabar. Raja Kalianget memerintahkanmu untuk pergi ke Teluk Terima.

“Perahu-perahu di sana telah dihancurkan dan orang-orang Bajo dengan sesuka hati berburu menjangan. Kita tidak bisa membiarkan hal ini.”

Sejujurnya kau tidak ingin pergi. Bagaimana mungkin kau meninggalkan istri yang baru sepekan kau nikahi? Kau juga ingat mimpi Ni Layonsari semalam. Sebuah banjir bandang menghanyutkan rumah kalian. Oh, Dewata, pertanda buruk apakah itu? Kau gusar. Ni Layonsari pun tidak ingin kau pergi. Ia cemas. Namun, kau pun tidak bisa menolak perintah raja.

Dengan janji bahwa kau akan kembali, pada akhirnya kau berangkat bersama Patih Saunggali ke Teluk Terima. Ada kegusaran yang terus mengusik batinmu. Entah mengapa, kau tahu bahwa kau mungkin tidak akan pernah kembali pada Ni Layonsari. Kau akan mati di Teluk Terima, begitu yang firasatmu terus menghantui pada setiap langkah.

“I Jayaprana, kau pasti sudah berfirasat. Ini adalah titah Raja Kalianget, maka kau harus menerimanya.” Patih Saunggali menyodorkan sepucuk surat.

Tumpah sudah air matamu. Raja Kalianget ingin kau mati. Kau telah melewati batasmu dengan menikahi Ni Layonsari yang jelita yang harusnya menjadi istri raja, begitu isi surat itu. Amarah dalam dadamu membuncah. Pernikahanmu dengan Ni Layonsari adalah perintah Raja Kalianget, lalu mengapa raja pula yang menginginkan istrimu? Di satu sisi kau ingat semua kebaikan yang telah Raja Kalianget berikan padamu. Kehidupan, martabat, keluarga, semua telah ia berikah padamu. Hidupmu memang telah sepatutnya kau serahkan pada Raja Kalianget.

Kau tersedu; memohon pada Dewata. Kau teringat pada istrimu yang jelita; ia menunggumu di rumah. Tak mengapa, kau mengerti. Raja pun pasti akan memberikan kehidupan yang baik pada istrimu seperti pula ia memberikan kehidupan padamu sejak kanak dulu.

Kau pasrah. Kau serahkan kerismu pada Patih Saunggali. “Bunuhlah aku, Paman. Katakan pada Raja Kalianget, aku adalah abdi setianya.”

Kau ambruk dalam dekapan Patih Saunggali setelah keris itu menembus lambung kirimu. Air matamu membasahi pundaknya sebelum kau benar-benar tewas.

“Aku hanya melaksanakan perintah raja, aku hanya melaksanakan perintah raja,” berulang kali Patih Saunggali mengatakan hal itu.

Darah yang mengucur dari tubuhmu menguarkan harum semerbak cendana. Langit cerah di atas sana kini berubah kelam. Bumi terguncang seakan murka pada apa yang terjadi padamu. Angin bergulung-gulung merusak apa pun yang dilewati dan bunga-bunga berguguran seakan bersedih untukmu.

“Oh, Dewata, inikah murkamu?” Patih Saunggali kebingungan. Ia ingat selepas upacara pernikahanmu dan Ni Layonsari, Raja Kalianget gusar. Raja menginginkan Ni Layonsari untuk dirinya sendiri. Dan Patih Saunggali menginginkan kepercayaan yang Raja Kalianget berikan padamu. Ia ingin menjadi abdi setia kesayangan Raja Kalianget.

Utuslah I Jayaprana ke Teluk Terima. Hamba yang akan mengurus sisanya, begitu usul Patih Saunggali. Raja Kalianget setuju. Setelah kau tewas, ia akan memboyong Ni Layonsari ke istana untuk dijadikan istri.

“I Jayaprana telah tewas demi menyelamatkan negeri dari orang-orang Bajo. Ia adalah pahlawan bagi negeri kita.”

Istrimu tertawa mendengar penuturan Raja Kalianget. Siapa yang akan percaya bahwa kau tewas karena orang-orang Bajo? Ni Layonsari jelas ingat tatapan Raja Kalianget padanya kala kau dan dirinya memberikan penghormatan setelah upacara pernikahan. Ni Layonsari tahu Raja Kalianget menaruh iri pada anak angkatnya. Raja yang begitu diagungkan olehmu tak lebih dari seorang laki-laki yang mengingkan apa yang bukan menjadi miliknya.

Ni Layonsari bukanlah perempuan bodoh. Ia tahu kematianmu adalah akal-akalan Raja Kalianget. Orang-orang Bajo yang berburu menjangan dan merusak perahu di Teluk Terima hanyalah alasan.

Istrimu hanya tertawa ketika ditawari gelar, kedudukan dan harta sebagai istri Raja Kalianget. Baginya hanya ada dirimu, I Jayaprana, suami yang meninggalkannya demi pengabdian terhadap raja yang adigungkan melebihi Dewata.

Ni Layonsari murka. Ia memilih mengikuti kematianmu dengan menikam dadanya sendiri dengan keris. Hina baginya menjadi istri Raja Kalianget setelah kepergianmu. Dalam doa yang abadi kepada dewa-dewa, Ni Layonsari bermunajat agar ia bisa bersatu denganmu di nirwana. Dunia begitu fana untuk kalian berdua. Kelak, di suatu masa yang jauh, tempat di mana kau bersemayam adalah larangan bagi suami istri untuk berjalan bersama. Alam telah memberikan penghormat bagi kau dan Ni Layonsari.

 

Catatan:

[1] Linuh: gempa

[2] Jero Bendesa: Kepala Desa Adat